Sabtu, 07 Januari 2012




POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 1:10 AM under

Jahit kawat adalah salah satu teknik penjilidan yang dikenal dalam industri grafika. Teknik jilid ini cocok digunakan untuk buku yang jumlahnya kurang dari 100 lembar. Pada awal sejarahnya mesin jahit kawat hanya menggunakan alat yang sederhana yang dioperasikan dengan tangan dan menggunakan kawat berbentuk "U" untuk menjahit lembaran-lembarannya. Baru kemudian pada tahun 1880, Brehmer dari Amerika memperkenalkan mesin jahit kawatnya di Jerman.

Dalam perkembangannya benang kawat yang semula berbentuk stick dikembangkan menjadi benang kawat. Namun sampai tahun 1950 mesin jahit kawat masih dalam bentuk yang sederhana. Terbukti baru pada tahun 1910, baru ditemukan alat perenteng (pengumpul) katern untuk mesin jahit kawat. Dan pada tahun 1930 dikenalkan mesin jahit kawat dengan alat perenteng otomatis. Tahun 1949, Muller membuat mesin jahit kawat dengan alat pengumpan katern sederhana. Terakhir, tahun 1957, Muller membuat mesin jahit kawat dengan perenteng yang juga digabungkan dengan mesin potong tiga sisi. (mesin ini sudah termasuk mesin modern)

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 5:25 AM under
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 5:20 AM under

image from www.proell.de
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 4:13 AM under

Salah satu media komunikasi yang dipergunakan oleh manusia yang satu dengan manusia yang lain adalah hasil produksi grafika yang berupa barang cetakan. Produk grafika ini merupakan alat komunikasi yang berbentuk tulisan, gambar, ilustrasi, dan tanda-tanda baca yang ditata sedemikian rupa dengan menambah unsur seni grafis didalamnya dalam wujud perpaduan, sehingga alat komunikasi ini memberikan kesan tentang sesuatu yang lebih luas dan mendalam.

Sehubungan dengan proses pembuatanya, produk grafika secara umum melalui rangkaian proses yang melibatkan bidang-bidang disiplin ilmu dan teknologi, yaitu:

  1. Kimia

    Yaitu suatu bahan mengalami perubahan akibat pengaruh terhadap gejala kimia. Contohnya: asam, basa, oksidasi, dll.

  2. Fisika

    Yaitu suatu bahan mengalami perubahan akibat pengaruh terjadinya peristiwa fisika. Contohnya: suhu, arus listrik, dll.

  3. Teknologi

    Yaitu suatu bahan mengalami perubahan akibat proses pembuatannya. Contoh:

    • Hardenability / Kekerasan
    • Costability / Pengecoran
    • Machineability / Getaran mesin
    • Weldability / Pengelasan
  4. Mekanis

    Yaitu suatu bahan mengalami perubahan akibat dari beban statis maupun dinamis. Contoh:

    • Beban tarik, beban tekan, beban lentur, beban geser, dan kombinasinya
    • Beban tiba-tiba
    • Tahan terhadap goresan dan jatuh bebas
    • Elastisitas bahan secara plastik dapat dirubah bentuknya dan tetap stabil
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 4:11 AM under

Gagasan melipat kertas dengan mesin pertma kali dikembangkan oleh Edward Smith, dan dipatenkan pada tahun 1849. Mesin yang dibuatnya melipat dengan menggunakan pisau lipat. Kemudian tahun 1860, Martini membuat mesin lipat dengan dua ayun, yang dapat menghasilkan lipatan 8 halaman. Tahun 1883, Erust Preuse membuat mesin lipat yang bentuknya sederhana dengan bentuk meja yang digerakkan dengan kaki.

Kemudian tahun 1887, mulai dikembangkan mesin lipat 3 ayun yang dapat menghasilkan lipatan 16 halaman. Tahun 1895, Brehmer membuat mesin lipat berkecepatan tinggi (1800lbr/jam). 1901, Gutberlet membuat mesin lipat dengan 4 ayun yang telah mampu melipat 32 halaman.

Tahun 1892, Gustav Klein membuat alat pemasukan kertas dengan cara hisap dan diberi nama UNIVERSAL, dan baru dipasang pada mesin lipat pada tahun 1906. Sejak tahun 1914, mulai dipergunakan mesin lipat 4 ayun secara otomatis. Terakhir, tahun 1927, mulai dikembangkan mesin lipat paralel (menggunakan tas lipat), sekaligus dikembangkan juga mesin lipat kombinasi (tas dan pisau).

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 4:35 AM under

Sekitar tahun 1800an mulai digunakan mesin potong kertas yang cara kerjanya seperti ketam, dan ada juga yang menggunakan pisau bulat seperti gergaji. Mesin potong yang telah berbentuk seperti mesin potong masa kini ditemukan oleh Guillame Massiquat yang berasal dari perancis pada tahun 1837, Thirault dengan pisau yang tidak bergerak tetapi mejanya yang bergerak ke atas.

Pada tahun 1840-1850, mulai berkembang pisau yang berbentuk kacip. Dan tahun 1859 Karl krause membuat mesin potong yang seluruhnya terbuat dari besi dan memiliki 3 buah ukuran. Lalu tahun 1880, Fomm dan Krause membuat mesin potong tiga sisi dengan meja yang bisa berputar. Tahun 1920 mulai digunakan mesin potong tiga sisi yang bekerja secara otomatis, kertas masuk dari depan dan keluar dari belakang.

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 4:34 AM under

Fudral adalah selubung buku yang digunakan pada saat pengiriman. Biasanya dalam satu selubung buku, terdiri dari beberapa jilid buku. Fudral dapat disajikan dalam bentuk sederhana maupun mewah.

Dalam proses pembuatan fudral sederhana, dapat dilakukan dengan cara dirill maupun digarits, karena bahan yang digunakan hanya karton 400-500gr. Sedangkan fudral dibuat dengan cara dipasang, karena dibuat menggunakan bord 40 ataupun bord 30. Fudral sederhana dapat disajikan tanpat tutup atau denga tutup, namun fudral mewah selalu tanpa tutup.

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 4:28 AM under
Proses pembuatan cover dapat dilakukan dengan cara :
  1. Quarter bound
    • Quarter cloth flush
      Daun sampul menggunakan bahan yang lunak dan murah.
    • Quarter cloth binding
      Daun sampul menggunakan bahan yang lebih kuat, dan punggung buku dari kain.
    • Quarter vellum binding
      Punggung buku menggunakan perkament dan daun sampul berbahan kuat.
    • Quarter lether binding
      Punggung buku menggunakan kulit, dan sampul berbahan kuat.
  2. Half bound

    Punggung dan sudut buku menggunakan bahan yang sama, sedangkan sampul berbahan kuat.

  3. Full bound
    • Cloth binding
      Seluruh daun sampul berbahan kain
    • Vellum binding
      Seluruh daun sampul berbahan perkament
    • Lether binding
      Seluruh daun sampul berbahan kulit
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 5:09 AM under

Saat ini jenis mesin yang digunakan dalam industri grafika sangat beraneka ragam. Untuk itu kita perlu mempelajari karakteristik dari tiap-tiap mesin itu sendiri agar proses cetak tetap berjalan dengan lancar. Namun apakah sebenarnya definisi dari mesin/alat cetak itu?

Mesin cetak adalah alat produksi yang dirancang untuk menghantarkan tinta cetak yang tipis ke atas permukaan bahan cetak pada bidang-bidang tertentu.

Alat cetak dirangcang untuk menghantarkan tinta cetak keatas permukaan bahan cetak pada bidang-bidang terseleksi secara berulang-ulang untuk menghasilkan produk informasi/dekoratif. Pada prinsipnya, semua alat cetak mempunyai susunan dasar yang sama, dimana susunan itu diistilahkan dengan "susunan fungsional" dari alat cetak. Dan bagian-bagian fungsional pada alat cetak saling berhubungan, sehingga membentuk satu sistem. Adapun persyaratan-persyaratan bagi alat cetak adalah sebagai berikut:

  1. Presisi

    Mesin cetak adalah alat mekanis yang dirancang sebagai alat produksi dengan persyaratan presisi yang tinggi. Unit cetak dalam proses cetak harus dijamin bahwa kontak yang terjadi antara acuan cetak dan bahan cetak merata di seluruh permukaannya. Adanya perbedaan ketinggian sekecil apapun akan menimbulkan perbedaan pada tekanan cetak yang mengakibatkan variasi kehitaman yang bisa dilihat.

  2. Efisiensi

    Selain persyaratan presisi yang tinggi, mesin cetak dirancang untuk mampu mencapai efisiensi yang tinggi pula dalam pengoprasiannya. Karena presisi yang tinggi saja tidak akan ada gunanya jika mesin cetak tidak dapat dioperasikan dengan efisien. Efisiensi kerja dalam hubungannya dengan mesin cetak dikatakan relatif, karena masih bergantung kepada faktor produktivitas kerja mesin cetak yang lebih cenderung ke arah peningkatan efektifitas dan produktifitas dari mesin cetak. Adapun kriteria mesin cetak yang dapat meningkat produktivitasnya dalah sebagai berikut :

    • Sistem penyetelan bagian fungsional mesin cetak dikontrol oleh peralatan elektronik ataupun komputer, sehingga hasilnya jauh lebih akurat dan dapat dilakukan dalam waktu yang jauh lebih singkat. Akibatnya terhadap peningkatan produktivitas, yaitu waktu persiapan mesin cetak menjadi jauh lebih singkat
    • Kecepatan (mekanis) cetak ditingkatkan hingga output juga ikut mengingkat
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 1:59 AM under

Pencetakan massal pertama kali dibuat kemingkinan besar untuk memudahkan penduplikasian injil, sedangkan teknik cetak yang pertama kali dikenal adalah teknik cetak tinggi yang ditemukan oleh Johannes Gutenberg di kota Mainz, Jerman pada tahun 1440. Pada saat itu, kota tersebut merupakan sentra pembuatan uang logam. Gutenberg membuat teknik cetak ini karena terinspirasi oleh yang digesekkan degan arang ke atas kertas sehingga membentuk gambar. Karena hal inilah ia berpikir untuk sebuah benda dengan tinggi bervariasi yang disebut juga acuan cetak.

Seperti yang telah diketahui, proses cetak hampir selalu berhubungan dengan kertas. Kertas adalah sebuah lembaran tipis yang terbuat dari jalinan serat selulosa.

Pada tahun 101 M, Tsai Lun dari China menciptakan kertas yang terbuat dari bahan bambu yang memang mudah ditemukan di China. Awalnya teknik pembuatan kertas ini sangatlah "rahasia", namun dengan semakin berkembangnya peradaban di daerah tersebut, maka penemuan ini akhirnya menyebar. Sampai pada akhirnya teknik pembuatan kertas ini jatuh ke tangan orang-orang Arab, tepatnya pada masa Abbasiyah setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang pada tahun 751 M dalam Pertempuran Sungai Talas. Saat itu para tawanan perang diminta untuk mengajarkan cara pembuata kertas pada orang-orang Arab ini, sehingga pada zaman yang sama, muncullah pusat industri kertas di Baghdad, Samarkand, dan kota-kota industri lainnya, kemudian ke Italia, India, dan daratan Eropa, terutama setelah perang salib dan akhirnya ke seluruh dunia.

Yang menarik adalah, sama seperti bangsa Indonesia yang menyebut kata blue, menjadi "blao", maka Bangsa Inggris pun menyebut papyrus dengan paper, Bangsa Belanda dan Jerman menyebutnya papier, sedangkan Bangsa Spanyol menggunakan kata papel untuk mendeskripsikannya.

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 3:37 AM under

Mungkin kalkulasi adalah pelajaran produksi yang paling ditakuti di sekolah saya. Karena pelajaran ini penuh dengan angka-angka dan perhitungan yang rumit, dan bisa dibilang kakulasi itu adalah akuntansi-nya grafika. Namun bila teman-teman saya bilang kakulasi itu sulit, tapi tidak untuk saya. Tanpa bermaksud sombong atau meremehkan pelajaran tersebut, namun untuk saya kalkulasi tergolong mudah jika dibandingkan dengan pelajaran produktif lainnya. Karena dalam kalkulasi sebenarnya hampir tidak ada materi yang harus dihafal, paling-paling hanya ukuran kertas. Dan itupun tidak semuanya.

Dalam dunia grafika, kalkulasi adalah ilmu untuk menghitung biaya-biaya yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk cetak. Biaya-biaya yang dimaksud meliputi: bahan, cetak, setting, foto reproduksi, montase, plate making, jilid, design, dan biaya lain yang diperlukan.

Pada umumnya perusahaan jasa grafika menentukan hara jual berdasarkan pada standar biaya yang telah disusun sebelumnya. Standar biaya tersebut merupakan nilai ganti yang diharapkan dapat mengembalikan modal perusahaan. Oleh karena itu, agar dapat menghitung harga barang cetakan, perusahaan harus mempunyai seorang estimator yang tugasnya menghitung harga pokok order cetak, harga jual, mengetahui apakah mesin sedang produksi atau tidak, serta menghitung kapasitas masing-masing mesin.

Lalu apakah kegunaan kalkulasi itu sendiri?

  1. Bagi Percetakan :
    • Menentukan harga jual jasa grafika
    • Mengantisipasi permintaan pasar
    • Mengetahui produktifitas dan keuntungan
    • Mengetahui biaya pembuatan suatu barang cetak
    • Mengetahui tingkat pengembalian modal perusahaan
  2. Bagi Konsumen :
    • Sebagai bahan negosiasi harga
    • Keperluan perencanaan anggaran
    • Mengetahui biaya cetak yang harus dikeluarkan
    • mengatisipasi biaya cetak periode mendatang

Dan pasti disetiap bidang yang ada tentu saja ada orang yang bekerja di bidang tersebut, nah untuk kalkulasi orang itu dinamakan Estimator. Dalam suatu perusahaan jasa grafika selalu ditempatkan tenaga-tenaga teknis grafis yang berkualitas dan kompeten, agar dapat memperoleh suatu hasil produk cetak yang baik sesuai permintaan pemesan, yaitu seorang estimator.

Berikut ini adalah tugas dan persyaratan bagi seorang estimator

  1. Tugas Estimator :
    • Menganalisis pekerjaan
    • Menganalisis kapasitas mesin
    • Menetapkan proses produksi
    • Memilih mesin sesuai spesifikasi pekerjaan
    • Menetapkan spesifikasi pekerjaan yang diterima
    • Mencari informasi perkembangan harga bahan
    • Menetapkan harga pokok
    • Memberikan alternatif harga kepada pimpinan
  2. Persyaratan Estimator :
    • Menguasai proses produksi
    • Menguasai perkembangan harga bahan
    • Memahami ukuran bahan
    • Menguasai ukuran mesin-mesin cetak
    • Memahami cara-cara perhitungan biaya cetak
    • Memiliki selera bisnis
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 3:36 AM under

Proses cetak merupakan inti dari proses produksi grafika, karena produksi massal dalam industri grafika dilakukan dalam proses cetak. Jika terjadi kesalahan hasil cetak maka kerugian terbesar terjadi dalam proses cetak. Oleh sebab itu, proses cetak menjadi bagian yang penting untuk dikendalikan. Lalu apakah sebenarnya proses cekak itu sendiri.

Secara fisika, proses cetak adalah gejala koloidal yang kompleks yaitu meliputi pencetakan, cairan kental yang bersifat plastis (tinta) terhadap permukaan bahan yang terdiri dari sekumpulan serat (selulosa/sintetis), pada kecepatan yang tinggi dengan tujuan untuk menghasilkan efek optik.

Pada dasarnya proses cetak itu sendiri terdiri dari beberapa bagian yang saling berurutan dan setiap kejadian mempengaruhi hasil pada kejadian berikutnya. Berikut adalah urutan kejadiannya :

  1. Kejadian Awal
    • Acuan cetak mendapat tinta dari unit penintaan.
    • Bahan cetak bergerak untuk bersinggungan dengan acuan cetak yang membawa tinta
  2. Kejadian Utama
    • Kontak terjadi akibat adanya tenaga yang menekan kedua permukaan tersebut (tekanan cetak).
    • Kontak tersebut hanya terjadi dalam waktu singkat akibat adanya kecepatan (kecepatan cetak).
    • Akibat kejadian itu, ada lapisan tinta yang dialihkan ke permukaan bahan.
  3. Kejadian Akhir
    • Pada kejadian ini, terjadi gejala pembelahan lapisan tinta.
    • Sebagian lapisan tinta beralih ke permukaan bahan cetak.
    • Sebagian sesanya tertinggal di permukaan acuan cetak.

Pada proses cetak yang sebenarnya, ketiga kejadian tersebut terjadi secara sistematis pada kecepatan yang relatif tinggi. Untukitu sistem mekanik mesin cetak dirancang untuk mampu menangani ketiga kejadian tersebut secara terus menerus.

Dalam kejadian utama, terjadi dua gejala yang terjadi pada waktu yang bersamaan, yaitu pengalihan tinta ke permukaan bahan cetak dan penyerapan sebagian kecil lapisan tinta oleh bahan cetak.

Penyerapan lapisan tinta hanya terjadi pada bahan cetak yang permukaannya berpori, sementara untuk bahan cetak yang tidak berpori, penyerapan tinta akan digantikan oleh sifat "Adhesi" (tarik menarik) antara tinta dengan permukaan bahan cetak.

Maka kesimpulannya proses cetak merupakan proses alih tinta dari acuan cetak kepermukaan bahan cetak. Saat pengalihan tinta itu sendiri sangat menentukan mutu hasil cetak, karena keutuhan dari perwujudan citra gambar pada permukaan bahan cetak ditentukan oleh ketebalan lapisan tinta yang dialihkan.

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 3:12 AM under

Setahun yang lalu ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di SMK Grafika Desa Putera, ada beberapa kalimat yang masing saya ingat hingga saat ini, dan ketika saya tanya ke kakak-kakak kelas saya maupun para alumni, ternyata kalimat itu selalu diucapkan para guru di pertemuan-pertemuan awal. Kalimat itu berbunyi seperti ini, "Dalam hidupnya manusia selalu berhubungan dengan produk grafika, mulai dari akte kelahiran hingga surat keterangan kematian dibuat diatas kertas dan dicetak". Lalu apakah sebenarnya arti dari kata grafika itu sendiri.

Grafika adalah segala cara pengungkapan pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman dengan huruf, tanda, dan/atau gambar, yang diperbanyak dengan mencetak guna disampaikan kepada khalayak umum sebagai media massa.

Dan tentu saja masalah kegrafikaan ini tidak lepas dari perihal cetak mencetak. Secara sederhana, teknik cetak adalah suatu tahapan proses memindahkan gambar/tulisan ke media lain dengan memberikan tekanan. Hingga saat ini teknik cetak itu sendiri dibagi dalam bebrapa kelompok, yaitu cetak tinggi (letterpress), cetak datar (offset/lithographi), cetak dalam (intaglio/rotogravure), cetak saring (sablon/screen printing), dan lain sebagainya.

Berikut penjelasannya:
  1. Cetak Tinggi : Yaitu proses cetak dimana bagian yang mengalihkan tinta lebih tinggi dari yang tidak (prinsipnya sama dengan stempel rumahan).
  2. Cetak Datar : Yaitu proses cetak dimana bagian yang mengalihkan tinta sama tingginya dari yang tidak.

  3. Cetak Dalam : Kebalikan dari cetak tinggi, pada teknik ini bagian mencetak atau mengalihkan tinta lebih rendah dari bagian yang tidak mencetak atau mengalihkan tinta.
  4. Cetak Saring : Berbeda dengan teknik-teknik sebelumnya, di teknik ini tinta yang dialihkan akan melalui media saringan (screen). Sama seperti ketika anda melubangi suatu kertas membentuk pola tertentu dan menyemprotkan pylox melewati lubang tadi.
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 3:11 AM under

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat tugas untuk mendata ukuran cetak dari tiap-tiap mesin sebanyak mungkin. Awalnya saya kira tugas ini mudah, namun setelah dicoba ternyata cukup sulit juga. Guru saya menyarankan untuk mencari referensi mesin-mesin tersebut di perpustakaan sekolah, namun karena saya lebih suka menjelajah dunia maya daripada duduk sambil memegang buku, maka saya memutuskan untuk mencarinya diinternet, dan tentu saja dengan bantuan Google. Seperti biasa mencari sesuatu di dunia luas ini sangatlah mudah, tinggal mengetikkan keyword yang dicari, tekan enter, dan hasilnya pun terpampang didepan anda.

Namun dari sekian banyak "tawaran" yang diberikan google, ternyata hanya beberapa yang menyajikan apa yang benar-benar saya cari. Sisanya hanyalah efek samping dari SEO, dan itupun masih berbahasa inggris. Dari situ saya menyadari bahwa informasi kegrafikaan di dunia ini sangatlah sedikit. Bayangkan dengan banyaknya percetakan di Indonesia, nyatanya hingga saat ini hanya ada 15-18 sekolah grafika yang ada di Indonesia.

Untuk itu saya mencoba untuk memberikan informasi seputar grafika yang mudah-mudahan berguna bagia orang yang membutuhkannya. Ide untuk membuat situs seperti ini memang sudah muncul sejak lama, namun saat itu saya berpikir untuk bekerja sama dengan pihak sekolah untuk meng-online-kan Indigo, The Mading of SMK Grafika Desa Putera. Namun karena takut dengan proses birokrasi yang lama, dan lagi pula seorang teman saya yang mengaku ketua dari Indigo tersebut telah naik ke kelas 3, yang otomatis waktunya untuk ekskul ini pun semakin sedikit, maka ia pun tidak teralu bisa membantu saya. Untuk itu saya memutuskan untuk berjuang seorang diri. Ditambah lagi memang jadwal terbit Indigo ini semakin "ngelantur" jadi agak sulit juga untuk kerjasama-nya.

Dan terakhir, saya memang suka mendesain website namun agak bingung ketika harus mengisinya dengan apa. Karena itu dengan tema kegrafikaan yang memang dunia saya ini, mudah-mudahan blog ini akan berguna nantinya, sekaligus sebagai "catatan digital" untuk saya yang memang malas mencatat kalau di sekolah. Dan bisa dibilang blog ini adalah oposisi dari Mading Indigo versi cetak yang ada di "dunia nyata".

leter press

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 4:18 AM under

Salah satu alasan teknik cetak tinggi masih digunakan hingga kini adalah ia mampu melakukan beberapa "pekerjaan khusus" yang tidak bisa dilakukan oleh mesin dengan teknik cetak lain. Contoh pekerjaan-pekerjaan khusus tersebut adalah, Stans, Rill, Perforasi, Embose, dan lain sebagainya. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing pekerjaan khusus tersebut.

  1. Stans & Rill
    Stans merupakan pekerjaan memotong yang tidak dapat dilakukan oleh mesin potong. Sedangkan Rill adalah pemberian jejak dengan tujuan memudahkan pelipatan. Stans dan Rill banyak ditemukan pada cetak kemasan.
  2. Perforasi
    Perforasi bertujuan untuk memudah penyobekan. Adapun bentuk-bentuk perforasi adalah sebagai berikut.
    • Garis
    • Hole/lubang
    • Persegi/Kubus
    • Persegi panjang
  3. Cetak Timbul
    Cetak timbul sendiri dibagi menjadi dua bagian, yaitu cetak timbul dengan pemanasan dan cetak timbul tanpa pemanasan.
  4. Cetak Embose
    Cetak embose adalah cetakan yang digunakan untuk memberikan efek timbul pada hasil cetakannya. Pada prosesnya, cetak embose menggunakan dua buah klise yang berbeda, yaitu klise patris dan klise matris. Yang mana klise matris diletakkan pada Acuan cetak, sedangkan klise patris ditempelkan di degel.
  5. Cetak emas dan Perak
    Cetak emas & perak bisa dilakukan dengan dua buah cara, yaitu menggunakan bubuk emas & perak dan menggunakan tinta emas & perak.
  6. Cetak Polimas
    Cetak poli adalah pencetakan yang menggunakan lembaran logam tipis tanpa tumpuan setebal 0,15mm sebagai pengganti tinta. Umumnya cetak poli digunakan dalam kartu-kartu ucapan serta kemasan.
  7. Cetak Karbon
    Cetak karbon menggunakan klise blok, tinta yang terbuat dari karbon, dan menggunakan lembar bantalan yang lunak.
  8. Cetak Iris
    Cetak iris adalah cetakan yang menggunakan beberapa warna tinta sekaligus.
  9. Cetak Dupleks
    Cetak dupleks adalah cetakan yang menggunakan dua warna sekaligus.
  10. Cetak Nomorator
    Cetak nomorator adalah cetakan yang digunakan untuk memberikan nomor urut padah hasil cetak.
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 4:17 AM under

Pada setiap hal yang kita lakukan pasti sering menemukan berbagai masalah, maka dalam proses cetak letterpress pun kerap terjadi beberapa masalah yang umumnya disebabkan oleh penyetelan mesin yang kurang baik dan juga pengaruh dari kurangnya pengetahuan operator mesin tersebut. Berikut gangguan-gangguan yang dimaksud berikut penyebabnya :

  1. Kenaikan Wit
    Penyebabnya adalah :
    • Kaki klise tidak siku-siku
    • Susunan huruf diisi kurang baik
    • Wit rusak
    • Menutup acuan kurang baik
    • Susunan huruf masih baru
  2. Penutupan Tinta
    Penyebabnya adalah :
    • Pencetakan terlalu berat
    • Mencetak dengan tinta terlalu tebal
    • Jenis kertas berdebu
    • Penyetelan rol kurang baik
    • Klise raster yang halus untuk kertas yang dicetak
  3. Cetakan Menyapu
    Penyebabnya adalah :
    • Kertas letaknya tidak rata
    • Lembar bantalan yang salah
    • Griper dipasang/di-stel kurang baik
  4. Cetak Dobel (doblerent)
    Penyebabnya adalah :
    • Tebal lembar bantalan tidak tepat
    • Kaki klise tidak rata
    • Tinggi klise kurang
  5. Tolak Cetak
    Penyebabnya adalah :
    • Tinta
    • Penggunaan obat pengering
    • Terlalu lama menunggu pencetakan warna selanjutnya
    • Mencetak basah atas basah
    • Bubuk anti tular
  6. Pemanikan Tinta (parelent)
    Penyebabnya adalah :
    • Mesin cetak yang digunakan
    • Tekanan cetak
    • Peralatan penintaan
    • Kertas
  7. Pencabutan (picking)
    Penyebabnya adalah :
    • Tinta cetak
    • Tekanan cetak
    • Kecepatan mesin
    • Kertas
  8. Penularan (smeth)
    Penyebabnya adalah :
    • Keadaan rol yang tidak baik
    • Ganjal rata yang ceroboh
    • Tinta yang keliru
    • Kertas bergeser pada meja pengeluaran
    • Kertas bertumpuk terlalu tinggi
    • Listrik statis
  9. Penodaan
    Penyebabnya adalah :
    • Pinggiran klise
    • Baris mesin susun huruf dengan sisa baris kosong
    • Cetakan dalam
    • Listrik statis
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 3:35 AM under

Dalam melakukan setiap pekerjaan kita pasti membutuhkan urutan kerja agar hasil yang didapatpun memuaskan. Coba saja anda bayangkan bila dalam memakai baju anda tidak memakai urutan kerja yang bernar (pake celana dulu baru celana dalemnya). Karena pentingnya hal itu maka dalam proses cetak, tepatnya letterpress pun memerlukan urutan kerja yang tepat. Berikut adalah urutan kerja Pencetakan dalam teknik letterpress.

  1. Pelumasan
    • Harian
    • Mingguan
    • Bulanan
  2. Penintaan
  3. Menutup acuan
  4. Pemasangan lembar bantalan
  5. Pemasangan acuan
  6. Cetak coba 1
    • Posisi cetakan
    • Tinta
    • Hasil cetak
  7. Pentustelan/ganja rata
    • Dalam lembar bantalan
    • Diatas lembar bantalan
    • Dibelakang acuan cetak
  8. Cetak coba 2
    • Tinta
    • Hasil cetak
  9. Pencetakan
  10. Kebersihan Mesin
    • Terpentin
    • RWA (roller washing agent)
    • Bensin + minyak tanah
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 3:31 AM under
  1. Bak Tinta
    Tempat meletakkan tinta yang akan digunakan dalam proses cetak.
  2. Sekrup Salur
    Sekrup yang digunakan untuk mengatur pisau bak tinta, jadi besar kecilnya tinta yang disalurkan bisa diatur lewa sekrup ini.
  3. Rol Bak Tinta
    Rol yang akan mengambil tinta dari bak tinta.
  4. Rol Jilat Tinta
    Rol yang memindahkan tinta dari rol bak tinta ke rol bagi.
  5. Rol Bagi
    Rol yang membagi tinta ke rol perata dan ke rol distribusi.
  6. Rol Perata
    Rol yang mertugas meratakan tinta dengan gerakan lateral.
  7. Rol Distribusi
    Rol yang mendistribusikan tinta dari rol bagi ke silinder rol.
  8. Silinder Rol
    Rol yang menyiapkan tinta sebelum diberikan ke rol huruf (diratakan).
  9. Rol Huruf
    Rol yang akan memberi lapisan tinta pada acuan cetak.
  10. Fundamen
    Bidang tempat meletakkan acuan cetak.
  11. Degel
    Alat yang akan menekan kertas/bahan cetak ke acuan cetak.

leter press

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 4:18 AM under

Salah satu alasan teknik cetak tinggi masih digunakan hingga kini adalah ia mampu melakukan beberapa "pekerjaan khusus" yang tidak bisa dilakukan oleh mesin dengan teknik cetak lain. Contoh pekerjaan-pekerjaan khusus tersebut adalah, Stans, Rill, Perforasi, Embose, dan lain sebagainya. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing pekerjaan khusus tersebut.

  1. Stans & Rill
    Stans merupakan pekerjaan memotong yang tidak dapat dilakukan oleh mesin potong. Sedangkan Rill adalah pemberian jejak dengan tujuan memudahkan pelipatan. Stans dan Rill banyak ditemukan pada cetak kemasan.
  2. Perforasi
    Perforasi bertujuan untuk memudah penyobekan. Adapun bentuk-bentuk perforasi adalah sebagai berikut.
    • Garis
    • Hole/lubang
    • Persegi/Kubus
    • Persegi panjang
  3. Cetak Timbul
    Cetak timbul sendiri dibagi menjadi dua bagian, yaitu cetak timbul dengan pemanasan dan cetak timbul tanpa pemanasan.
  4. Cetak Embose
    Cetak embose adalah cetakan yang digunakan untuk memberikan efek timbul pada hasil cetakannya. Pada prosesnya, cetak embose menggunakan dua buah klise yang berbeda, yaitu klise patris dan klise matris. Yang mana klise matris diletakkan pada Acuan cetak, sedangkan klise patris ditempelkan di degel.
  5. Cetak emas dan Perak
    Cetak emas & perak bisa dilakukan dengan dua buah cara, yaitu menggunakan bubuk emas & perak dan menggunakan tinta emas & perak.
  6. Cetak Polimas
    Cetak poli adalah pencetakan yang menggunakan lembaran logam tipis tanpa tumpuan setebal 0,15mm sebagai pengganti tinta. Umumnya cetak poli digunakan dalam kartu-kartu ucapan serta kemasan.
  7. Cetak Karbon
    Cetak karbon menggunakan klise blok, tinta yang terbuat dari karbon, dan menggunakan lembar bantalan yang lunak.
  8. Cetak Iris
    Cetak iris adalah cetakan yang menggunakan beberapa warna tinta sekaligus.
  9. Cetak Dupleks
    Cetak dupleks adalah cetakan yang menggunakan dua warna sekaligus.
  10. Cetak Nomorator
    Cetak nomorator adalah cetakan yang digunakan untuk memberikan nomor urut padah hasil cetak.
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 4:17 AM under

Pada setiap hal yang kita lakukan pasti sering menemukan berbagai masalah, maka dalam proses cetak letterpress pun kerap terjadi beberapa masalah yang umumnya disebabkan oleh penyetelan mesin yang kurang baik dan juga pengaruh dari kurangnya pengetahuan operator mesin tersebut. Berikut gangguan-gangguan yang dimaksud berikut penyebabnya :

  1. Kenaikan Wit
    Penyebabnya adalah :
    • Kaki klise tidak siku-siku
    • Susunan huruf diisi kurang baik
    • Wit rusak
    • Menutup acuan kurang baik
    • Susunan huruf masih baru
  2. Penutupan Tinta
    Penyebabnya adalah :
    • Pencetakan terlalu berat
    • Mencetak dengan tinta terlalu tebal
    • Jenis kertas berdebu
    • Penyetelan rol kurang baik
    • Klise raster yang halus untuk kertas yang dicetak
  3. Cetakan Menyapu
    Penyebabnya adalah :
    • Kertas letaknya tidak rata
    • Lembar bantalan yang salah
    • Griper dipasang/di-stel kurang baik
  4. Cetak Dobel (doblerent)
    Penyebabnya adalah :
    • Tebal lembar bantalan tidak tepat
    • Kaki klise tidak rata
    • Tinggi klise kurang
  5. Tolak Cetak
    Penyebabnya adalah :
    • Tinta
    • Penggunaan obat pengering
    • Terlalu lama menunggu pencetakan warna selanjutnya
    • Mencetak basah atas basah
    • Bubuk anti tular
  6. Pemanikan Tinta (parelent)
    Penyebabnya adalah :
    • Mesin cetak yang digunakan
    • Tekanan cetak
    • Peralatan penintaan
    • Kertas
  7. Pencabutan (picking)
    Penyebabnya adalah :
    • Tinta cetak
    • Tekanan cetak
    • Kecepatan mesin
    • Kertas
  8. Penularan (smeth)
    Penyebabnya adalah :
    • Keadaan rol yang tidak baik
    • Ganjal rata yang ceroboh
    • Tinta yang keliru
    • Kertas bergeser pada meja pengeluaran
    • Kertas bertumpuk terlalu tinggi
    • Listrik statis
  9. Penodaan
    Penyebabnya adalah :
    • Pinggiran klise
    • Baris mesin susun huruf dengan sisa baris kosong
    • Cetakan dalam
    • Listrik statis
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 3:35 AM under

Dalam melakukan setiap pekerjaan kita pasti membutuhkan urutan kerja agar hasil yang didapatpun memuaskan. Coba saja anda bayangkan bila dalam memakai baju anda tidak memakai urutan kerja yang bernar (pake celana dulu baru celana dalemnya). Karena pentingnya hal itu maka dalam proses cetak, tepatnya letterpress pun memerlukan urutan kerja yang tepat. Berikut adalah urutan kerja Pencetakan dalam teknik letterpress.

  1. Pelumasan
    • Harian
    • Mingguan
    • Bulanan
  2. Penintaan
  3. Menutup acuan
  4. Pemasangan lembar bantalan
  5. Pemasangan acuan
  6. Cetak coba 1
    • Posisi cetakan
    • Tinta
    • Hasil cetak
  7. Pentustelan/ganja rata
    • Dalam lembar bantalan
    • Diatas lembar bantalan
    • Dibelakang acuan cetak
  8. Cetak coba 2
    • Tinta
    • Hasil cetak
  9. Pencetakan
  10. Kebersihan Mesin
    • Terpentin
    • RWA (roller washing agent)
    • Bensin + minyak tanah
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 3:31 AM under
  1. Bak Tinta
    Tempat meletakkan tinta yang akan digunakan dalam proses cetak.
  2. Sekrup Salur
    Sekrup yang digunakan untuk mengatur pisau bak tinta, jadi besar kecilnya tinta yang disalurkan bisa diatur lewa sekrup ini.
  3. Rol Bak Tinta
    Rol yang akan mengambil tinta dari bak tinta.
  4. Rol Jilat Tinta
    Rol yang memindahkan tinta dari rol bak tinta ke rol bagi.
  5. Rol Bagi
    Rol yang membagi tinta ke rol perata dan ke rol distribusi.
  6. Rol Perata
    Rol yang mertugas meratakan tinta dengan gerakan lateral.
  7. Rol Distribusi
    Rol yang mendistribusikan tinta dari rol bagi ke silinder rol.
  8. Silinder Rol
    Rol yang menyiapkan tinta sebelum diberikan ke rol huruf (diratakan).
  9. Rol Huruf
    Rol yang akan memberi lapisan tinta pada acuan cetak.
  10. Fundamen
    Bidang tempat meletakkan acuan cetak.
  11. Degel
    Alat yang akan menekan kertas/bahan cetak ke acuan cetak.

cetak ofset

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 2:48 AM under

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 1:53 AM under

Prinsip dasar cetak offset adalah bahwa bidang yang mencetak dan tidak mencetak berada pada permukaan pelat cetak yang datar.

Pelat cetak offset adalah keping logam tipis ataupun bahan lain yang digunakan sebagai pembawa gambar yang akan dicetak.


Sifat berlawanan antara lemak (tinta) dengan air memungkinkan hanya memberikan penintaan pada bidang gambar pada pelat cetak saja. Untuk itu pelat cetak disiapkan atas dua bagian, yaitu:

  1. Bagian Hidrophilic yang bersifat menarik air tetapi menolak tinta untuk bagian non-gambar yang tidak mencetak.
  2. Bagian Oleophilic yang bersifat menarik tinta namun menolak air untuk bagian gambar yang mencetak.

Fungsi pelat cetak adalah menerima tinta dari rol form tinta dengan lapisan tinta tertentu dan memindahkannya ke kain karet.


Dilihat dari cara kerjanya, terdapat 2 macam pelat cetak, yaitu:
  1. Pelat Negatif
    • Pembuatannya menggunakan film negatif
    • Bagian gambar/lapisan putih bening pada film negatif meneruskan cahaya sampai ke lapisan peka cahaya pada permukaan pelat dan dikeraskan. Lapisan peka cahaya yang dikeraskan tertinggal pada waktu pengembangan dan menjadi bagian gambar yang menarik tinta
    • Bagian non-gambar/lapisan hitam pekat pada film negatif menahan sinar sehingga lapisan peka cahaya dibawahnya tidak dikeraskan dan akan larut pada waktu pengembangan dan menjadi bagian non-gambar yang menarik air


  2. Pelat Positif
    • Pembuatannya menggunakan film positif
    • Bagian gambar/lapisan hitam pekat pada film positif menahan sinar sehingga lapisan peka cahaya di bawahnya tetap tinggal saat pengembangan dan menjadi bagian gambar yang menarik tinta
    • Bagian non-gambar/lapisan putih bening pada film positif meneruskan sinar sampai lapisan peka cahaya pada permukaan pelat terurai/larut. Lapisan peka cahaya terkena sinar akan larut waktu pengembangan dan menjadi bagian non-gambar yang menarik air
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 4:45 AM under

GOM arabica telah lama dipergunakan, dan dilihat secara kimia merupakan campuran dari kalium dan garam magnesium. Penambahan GOM arabica pada air pembasah bertujuan untuk melindungi pelat pada bagian yang tidak mencetaknya (non-image area). Bila dipergunakan bahan-bahan lain yang molekulnya tinggi kedalam air bersama-sama dengan GOM arabica, maka akan terbentuk endapan pada air pembasah. Untuk memperoleh keasaman yang stabil, maka pada awal pencetakkan dianjurkan untuk menggunakan keasaman yang lemah.

Dengan keasaman yang lemah ini, nilai keasaman akan berubah dan cenderung naik, sebagai akibat adanya pengaruh keasaman kertas. Kertas berlapis (coated) memiliki pH 8-10 yang akan berpengaruh pada air pembasah selama proses pencetakkan.

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 4:44 AM under

Air tidak hanya terdiri dari persenyawaan Hidrogen dan Oksigen, tetapi juga terdiri dari ion H dan ion OH yang seimbang pada air yang netral. Bila ion H lebih mendominasi larutan, maka larutan akan bersifat asam. Sebaliknya bila ion OH yang mendominasi, maka larutan akan bersifat basa/alkali. Tingkat keasaman suatu larutan dapat diketahui dengan mengatur kadar hidrogennya. Nilai pH dinyatakan dengan angka 0-14, dimana nila < 7 menunjukkan sifat asam dan bila > 7 bersifat basa, sedangkan bila bernilai 7, maka disebut netral.

Dalam cetak offset, nilai pH yang tidak cocok bagi cairan pembasahnya mempunyai dampak negatif terhadap hasil cetakan. Dimana kandungan asam yang terlalu tinggi dapat memperpendek umur pelat, dan tinta akan lambat kering, atau dalam kasus yang ekstrem tinta tidak dapat mengering sama sekali. Sedangkan bila nilai pH terlalu tinggi (terlalu alkali) dapat menyebabkan pembesaran titik-titik raster (dot gain), tinta beremulsi, dan timbulnya semacam kabut tinta pada seluruh permukaan pelat yang dapat menyebabkan pelat kotor. Jadi, air pembasah yang terlalu alkali akan mengakibatkan nada lengkap tercetak lebih berat dan image area menjadi kotor.

Nilai pH yang berbeda pada permukaan kertas yang bermacam-macam jenis dan permukaannya akan sangat berpengaruh pada proses cetaknya, karena tidak hanya lapisan tinta yang dialihkan oleh blanket dalam proses cetak, tetapi sejumlah kecil air juga.

Debu dan partikel-partikel kertas dari lapisan kertas yang dicetak cenderung melekat pada blanket yang basah. Pada garis kontak antara silinder blanket dan pelat, sebagian debu kertas itu juga akan dialihkan ke pelat, dan mencapai rol pembasah pelat. Akibatnya nilai pH kertas dapat mempengaruhi permukaan pelat maupun air pembasah.

Dapat dikatakan bahwa kertas berlapis (coated) biasanya bersifat basah/alkali, sedangkan kertas alami (uncoated) hampir selalu bersifat asam.

Untuk mencegah efek negatif dari pH yang menggunakan tingkat mutu kertas yang berbeda-beda, maka diperlukan bahan penahan yang dicampurkan dalam cairan pembasah, sehingga nilai pH air pembasah tetap baik.

Telah disinggung sebelumnya bahwa untuk mengetahui pH dapat diukur dengan indikator, yaitu dengan cara membandingkan hasil ukur warna yang ditimbulkan pada kertas indikator (kertas lakmus). Cara ukur ini kurang teliti, namun bagi operator cara ukur ini paling efektif, karena hasilnya cepat diketahui. Cara ukur yang digunakan pada laboratorium lebih teliti, yaitu dengan menggunakan pH meter.

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 12:40 AM under

Pada posting sebelumnya telah dijelaskan bahwa sistem penintaan merupakan bagian yang penting dalam proses cetak offset lithography, karena bagus tidaknya hasil cetakkan juga ditentukan oleh kesempurnaan kerja sistem penintaan ini. Dan untuk menghasilkan penintaan yang baik dan sempurna, maka unit penintaan memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu :

  1. Toleransi presisi yang tepat
  2. Lingkaran konsentrik
  3. Pemeriksaan untuk mencegah kesalahan gerak
  4. Kekentalan yang cukup untuk menghindari pengotoran pada kecepatan tinggi
  5. Perpindahan tinta secara cepat dan tepat keatas permukaan bahan cetak

Pengalihan tinta diantara rol-rol tinta akan sangat dipengaruhi oleh adanya tekanan antara rol karet (yang tidak digerakkan oleh gerigi) dengan rol logam yang digerakkan oleh gerigi. Ketepatan penyetelan akan sangat menentukan kedudukan gerigi pada kecepatan yang tinggi.


A. Penyetelan Rol Penintaan

Dilakukan secara seksama, dengan memperhatikan proses cetak, bahan cetak, dan SOP (Standar Operasional Produk). Kontak yang merata dan pengaturan tekanan bergantung pada beberapa faktor, yaitu :

  1. Kontak yang kurang baik antar rol dapat menyebabkan pengalihan tinta yang tidak sempurna.
  2. Kontak yang terlalu berat akan memberikan jumlah lapisan tinta yang tipis, yaitu tinta yang hanya bisa melewati celah antar rol-rol tadi.
  3. Pemukaan rol harus rata agar tekanan tidak hanya terkonsentrasi di satu titik.
  4. Rol yang lebih lunak dapat memindahkan tinta dengan lebih baik.
  5. Jika rol keras dan memiliki kekuata yang tinggi, maka kontak dengan rol lain harus dikurangi.
  6. Kecepatan mesin berbanding tebalik dengan lepasnya sebagian tinta pada waktu beralih, karena rendahnya viskositas tinta.
  7. Pada proses cetak offset, kontak rol harus lebih ringan dibanding proses cetak lainnya.
B. Kondisi Rol-Rol Penintaan

Rol tinta terdiri dari bermacam-macam lapisan, seperti tembaga, plastik, bahan kunstof, dan karet sintetis. Untuk rol-rol karet, diperlukan persyaratan sebagai berikut :

  1. Permukaan yang redup / Tidak mengkilat (tidak licin)
  2. Pori-pori terbuka (tidak tertutup residu tinta, bahan pencuci, vernish, dll)
  3. Memiliki kekenyalan tertentu sesuai fungsinya
  4. Tahan terhadap bahan pencuci, vernish, dan bahan pengering
C. Penyetelan Kedudukan Rol-Rol Form/Penghantar

Karena sangat pentingnya kedudukan rol-rol form (pelat) dalam menghantarkan lapisan tinta pada pelat, makan penyetelan kedudukan rol-rol itu ke permukaan pelat cetak dan ke rol distribusi menjadi sangat penting.

Penyetelan pada rol distribusi dilakukan dengan menggunakan dua jalur kertas atau film yang memiliki lebar 4cm dan 2,5cm dan dengan ketebalan 0,05mm. Masing-masing ditempatkan bertumpukan diantara rol-rol tinta, pelat, dan rol distribusi dengan jalur kertas yang kecil berkontak dengan rol vibrator. Jalur sempit ini digunakan sebagai jalur pengecek, karena itu jalur yang kecil ini harus dapat ditarik keluar dengan tarikan yang kuat.

Rol form dipasang setelah pelat terpasang dengan tepat. Pada saat mesin cetak berhenti, rol yang telah ditintai, diturunkan ke pelat yang kering, dan kemudian rol diangkat lagi. Jalur tinta yang dihasilkan tadi dapat dilihat dan diukur, dan seharusnya jalur tinta tersebut memiliki lebar 3-4mm (6-8mm pada mesin cetak besar) dan juga tergantung dari diameter rolnya sendiri.

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 5:07 AM under
  1. Blanket Hardness

    Tingkat kekerasan/kelembutan blanket yang dipengaruhi oleh kualitas permukaan atau karet sintetis dan terpal/carcas. Blaket yang baik adalah blanket yang mempunyai tingkat kekerasan yang tinggi, sehingga mempengaruhi kecepata proses pengalihan tinta.

    Kekerasan blanket dinyatakan dalam derajat shore. Nilai yang baik yang dipakai dalam proses pencetakan pada cetak offset lembaran adalah 60o - 80o shore, sedangkan untuk offset gulungan ataupun offset kering 80o - 85o shore, dengan diukur menggunakan alat yang dinamakan durometer/shoremeter.

  2. Micro Hardness

    Tingkat kekerasan/kelembutan blanket pada bagian permukaannya. Dipengaruhi oleh kualitas compressible blanket. Contohnya gom arabica yang bisa menyebabkan compresibilitas blanket menjadi keras, sebaliknya solvent menyebabkan compresibilitas blanket melunak.

  3. Sheet Release

    Merupakan kemampuan blanket untuk melepaskan bahan cetak selama proses pencetakan. Blanket yang baik, sheet releasenya cepat. Faktor-faktor yang mempengaruhi sheet release diantaranya, jenis blanket, gramatur kertas, arah serat kertas, kelengketan tinta cetak, dan kecepatan mesin cetak.

  4. Tensile Strength

    Berkaitan dengan kemampuan menahan daya tarik blanket terhadap beban yang diberikan. Kekuatan tarik blanket dipengaruhi oleh jumlah dan tipe dari serat kain yang terdapat pada lapisan terpal. Blanket compressible memiliki kekuatan tarik 70K Newton/m, blanket konvensional 61K Newton/m, sedangkan blanket alternatif yang digunakan pada cetak continuous form, memiliki kekuatan tarik 59K Newton/m.

  5. Tensile Streeth

    Tingkat elastisitas blanket yang disebabkan oleh perubahan dimensi dari tingkat elastisitas blanket normal. Blanket compressible beban pengencangannya 10K Newton/m dengan elastisitas 0,7% dari beban. Sedangkan untuk blanket konvensional tingkat elastisitas 0,75-0,9% dari beban.

    Faktor penyebab elastisitas diantaranya adalah jenis blanket dan proses pembuatannya. Dampak yang ditimbulkan dari elastisitas blanket adalah cetakan doubling dan miss register. Alat untuk mengukur elastisitas blanket adalah Tensionmeter/Tensometer.

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 5:05 AM under

Bila dilihat dari susunan lapisan-lapisannya, kain karet bisa dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

  1. Kain karet termampatkan/kain karet biasa (konvensional)

    Terdiri atas lapisan karet dan benang fabrio yang letaknya berselang-seling yang masing-masing dihubungkan dengan karet penghubung.

  2. Kain karet tak termampatkan (compressible)

    Berbeda dengan kain termampatkan pada lapisan keduanya, karena pada lapisan karet kedua ini dilengkapi dengan gelembung atau rongga udara yang berukuran microscopic.

Adapun perbedaan-perbedaan dari kedua jenis blanket tersebut dalam aplikasinya adalah sebagai berikut :

  1. Blanket Konvensional

    Blanket konvesional memperlihatkan ketahanan yang tinggi terhadap tekanan. Hal ini disebabkan susunan lapisan-lapisannya dihubungkan dengan karet elastis biasa yang volumenya tetap. Dengan volume yang tetap ini, pada saat blanket mendapat tekanan, karet penghubung yang volumenya tetap akan bergerak kesamping, sehingga akan merubah bentuk, sehingga gambar yang ada diatasnya pun akan ikut berubah.

    Tekanan pelat yang telalu besar ke blanket akan menyebabkan pelat tergesek pada saat blanket berusaha kembali ke bentuk semula. Gesekan ini dapat mengakibatkan dot gain, memperpendek umur pelat, dan terjadi slurring bila tekanan blanket terlalu berat pada bahan cetak.

  2. offset printing, blanket cylinder on pressure
  3. Blanket Compressible

    Kekenyalan blanket berasal dari lapisan compressible yang terdapat di bagian bawah dari surface layer. Bagian tengah blanket akan termampatkan pada saat terjadi penekanan, desain ini juga disesuaikan terhadap gangguan dari proses penekanan dan transfer tinta tanpa menyebabkan dot gain.

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 5:05 AM under

Teknik cetak offset sebagai teknik cetak tidak langsung, memerlukan media perantara untuk mengalihkan lapisan tinta dari acuan ke bahan cetak, yaitu sebuah silinder kain karet atau yang lebih dikenal dengan "Blanket".

Sebagai perantara, kain karet berfungsi untuk menerima lapisan tinta dari acuan dan memindahkan lapisan tinta tersebut keatas permukaan bahan cetak.

Untuk dapat menerima dan memindahkan lapisan tinta dengan sempurna, maka blanket memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya :

  1. Permukaan yang redup/tidak mengkilap
  2. Pori-porinya terbuka
  3. Kekuatan yang merata diseluruh permukaan
  4. Kemungkinan mengembang sangat kecil
  5. Mudah mengambil tinta dari acuan, dan melepaskannya keatas bahan cetak
  6. Tahan terhadap tekanan, bahan pencuci, dan bentangan
  7. Debu kertas tidak mudah melekat di permukaannya
  8. Perbedaan ketinggian hanya antara 0,005-0,025mm
  9. Tidak menyerap minyak dari tinta cetak
Susunan Lembar Kain Karet

Satu lembar kain karet terdiri dari beberapa lapisan yang dihubungkan dengan perekat, sehinggan menjadi satu kesatuan yang utuh. Karena itu, dalam pemakaiannya, sebisa mungkin dihindari rusaknya hubungan antar lapisan-lapisan tersebut. Lapisan yang dimaksud adalah :

  1. KARET

    Bagian paling atas yang langsung berhubungan dengan tinta, terbuat dari karet sintetis, dan memiliki ketebalan 0,4-0,5mmm. Karet ini harus dibuat untuk tahan terhadap berbagai macam bahan kimia, vernish, dan tinta, dan tetap tidak berubah bentuk karena persinggungannya dengan silinder pelat dan bahan cetak.

  2. BENANG

    Lapisan ini merupakan jalinan benang yang saling mengikat dan mampu menahan bentangan serta tekanan selama proses produksi. Jaringan ini dipersiapkan sedemikian rupa, sehingga pada arah tertentu benang induk menjadi kekuatan utama dari kain karet ini.

    Maka dalam pemasangannya, arah benang induk harus mengarah ke klem penjepit silinder (berlawanan dengan poros silinder), agar tidak mudah mulur dan sobek.

Selain kedua lapisan diatas, kain karet masih ditambah dengan terpal yang merupakan lapisan landasan kain karet yang langsung berhubungan dengan permukaan silindernya.

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 5:03 AM under ,

Dalam cetak offset, mula-mulat pelat akan dibasahi terlebih dahulu oleh air sebelum dilapisi dengan tinta, oleh karena itu, rol-rol tinta akan selalu bersentuhan dengan air selama proses penintaan pelat.

Bila tinta cetak terlalu banyak mengambil air, maka tinta akan beremulsi. yang dapat mengakibatkan cetakan tidak dapat mengering dengan baik, warnanya pun akan terlihat lemah/pucat. Karena itu, persyaratan utama tinta cetak offset adalah menolak air.

Tinta cetak letterpress tidak harus kedap air, karena dalam proses cetak tinggi memang tidak menggunakan air pembasah. Kemudian, tinta cetak tinggi pun bisa dipergunakan untuk cetak offset apabila tinta tersebut telah dipersiapkan untuk menolak air.

Dalam cetak offset, pembelah tinta oleh silinder terjadi dua kali, oleh karena ini, tinta yang ada di kertas akan selalu lebih tipis daripada yang ada di pelat. Maka, untuk memperoleh kontras cetak yang baik meskipun tintanya tipis, maka tinta yang digunakan harus memilik kekuatan penodaan yang tinggi. Ada beberapa cara untuk mencapai tingkat penodaan yang baik, namun yang paling sederhana ialah meningkatkan ketebalan lapisan tinta.

Untuk cetak blok, penambahan ketebalan lapisan tinta ini memang cocok untuk dilakukan, namun tidak untuk pencetakan huruf ataupun raster (nada lengkap/half tone). Karena penambahan tinta yang terlalu berlebihan justru akan menyebabkan pembesaran titik raster (dot gain).

Jika tinta yang digunakan terlalu banyak, maka tinta tersebut akan meleleh didalam air, dan dapat menyebabkan cetakan yang berkabut. Selain itu, penggunaan tinta yang berlebihan juga dapat menyebabkan cetakan yang tidak tajam, karena lubang-lubang huruf akan terisi oleh tinta.

Jadi cara yang baik untuk menambah kekuatan penodaan tinta adalah dengan menambahkan kandungan pigment dalam tinta tersebut, karena makin tinggi prosentase kandungan pigment dalam tinta cetak, maka akan makin cerah cetakannya. Namun prosentasenya hanya dapat dinaikkan hingga ke ukuran tertentu saja, karena bila lebih dari itu maka tinta akan kehilangan sifat-sifat cetaknya.

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 5:02 AM under ,

Sistem penintaan membedakan beberapa jenis rol dengan diameter yang berbeda-beda dan ditempatkan secara berselang-seling, untuk memperbaiki alih tinta dan menghindarkan gesekan antar rol. Susunan rol penintaan terbagi 2, yaitu :

  1. Susunan penintaan simetris, susunan dengan rol-rol form yang garis tengahnya berbeda dan setiap rol memberikan prosentase tinta yang sama sebanyak 25% dari jumlah tinta yang diperlukan pelat cetak.
  2. Sistem penintaan asimetris, pada sistem ini diameter rol penghantar tidak sama besarnya dan jumlah lapisan tinta yang dialihkan pada masing-masing rol pun tidak sama
Construction of Offset Printing Inkking Sistem

Sistem penintaan dengan susunan asimetri lebih banyak memberikan keuntungan dan lebih baik dan lebih baik dalam memberikan penintaan pada permukaan pelat. Keuntungan yang dimaksud adalah :

  1. Timbulnya bayangan gambar pada proses pencetakan dapat dikurangi
  2. Volume air yang terlalu banya dapat dicegah oleh rol pertama dan kedua
  3. Gejala terjadinya emulsi tinta dapat dicegah
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 5:01 AM under

Unit penintaan merupakan unit yang penting dalam proses cetak offset (begitu juga dalam proses cetak lainnya). Oleh karena itu, untuk menghasilkan penintaan yang baik dan sempurna, maka unit penintaan memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu :

  1. Toleransi presisi yang tepat
  2. Lingkaran konsentrik
  3. Pemeriksaan untuk mencegah kesalahan gerak
  4. Kekentalan yang cukup untuk menghindari pengotoran pada kecepatan tinggi
  5. Perpindahan tinta secara cepat & tepat keatas permukaan bahan cetak

Pengalihan tinta diantara rol-rol akan sangat tergantung oleh adanya tekanan antara rol karet (yang tidak digerakkan oleh gerigi) dengan rol logam yang digerakkan gerigi. Ketepatan penyetelan akan sangat menentukan kedudukan gerigi pada kecepatan yang tinggi.


- Penyetelan Rol

Dilakukan secara seksama, dengan memperhatikan proses cetak, bahan cetak, dan SOP (Standar Operasional Produk). Kontak yang rata dan pengaturan tekanan bergantung pada beberapa faktor, yaitu :

  1. Kontak yang kurang baik antar rol menyebabkan pengalihan tinta tidak sempurna.
  2. Kontak yang terlalu berat akan memberikan jumlah lapisan tinta yang tipis, yang dapat melewati celah-celah rol.
  3. Permukaan rol harus rata agar tekanan tidak terkonsentrasi di satu titik.
  4. Rol yang lebih lunak dapat memindahkan tinta dengan lebih baik.
  5. Rol yang keras dengan kekuatan yang tingg, kontak dengan rol yang lain dapat dikurangi.
  6. Kecepatan mesin berbanding terbalik dengan lepasnya sebagian tinta pada saat beralih, karena rendahnya viskositas tinta.
  7. Pada proses cetak offset, kontak rol harus lebih ringan dibanding proses cetak lainnya.
- Kondisi Rol Penintaan

Rol tinta terdiri dari bermacam-macam lapisan, seperti tembaga, plastik, bahan kunstof, dan karet sitetis. Untuk rol-rol karet, diperlukan persyaratan-persyaratan sebagai berikut :

  1. Permukaan yang redup
  2. Pori-pori terbuka (tidak tertutup residu tinta, bahan pencuci, vernis, dll)
  3. Memiliki kekenyalan tertentu sesuai fungsinya
  4. Tahan terhadap bahan pencuci, vernis, dan bahan pengering

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesempurnaan pemberian tinta adalah sebagai berikut :

  1. Kondisi rol-rol tinta
  2. Kedudukan dan hubungan masing-masing rol
  3. Jumlah dan ukuran rol
  4. Gerakkan latteral rol distribusi
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 5:09 AM under

Mesin cetak offset gulungan memiliki prinsip perlintasan kertas yang akan dicetak, dilipat, dan dipotong tetap terbentang dalam satu lembar plano. Hal ini dikarenakan kertas yang digunakan berupa gulungan. Adapun beberapa jenis konstruksi dari mesin cetak offset gulungan, adalah sebagai berikut :

  1. Sistem Blanket to Blanket
    Sistem ini memiliki 4 buah silinder, yaitu dua silinder pelat dan 2 silinder blanket pada tiap unitnya. Hasil cetakan akan berupa 1 warna pada 2 sisi bahan cetak dengan cara saling menekankan dua blanket tadi. Sistem blanket to blanket sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu:
    • Penghantar Kertas Vertikal
      Kertas dihantarkan dengan alat tegak/vertikal. Beberapa contoh mesin yang menggunakan sistem ini adalah Crabtree, Suburban, Spearhead, dan Urbanit.
    • Penghantar Kertas Horizontal
      Kertas/bahan cetak dilintaskan secara mendatar. Mesin-mesin yang menggunakan sistem ini adalah Roland, Solna, Wifag, Fairchild, Frankenthal, dll.
  2. Sistem Satelit
    Sistem ini dilengkapi dengan 4 pasang silinder pelat, 4 pasang silinder blanket, dan sebuah silinder impresion yang diameternya dibuat tiga kali lebih besar dari silinder pelat dan silinder blanket. Keempat pasang silinder pelat dan silinder blanket akan mengelilingi silinder impresion. Sistem jenis ini memiliki keuntungan dalam mencetak warna, karena pada saat pencetakan diantara unit-unit cetaknya, kertas hanya berada pada 1 buah silinder impresion, sehingga tidak ada getaran kertas yang mempengaruhi keregisteran cetak yang disebabkan olek perpindahan kertas diantara unit-unit cetak. Beberapa jenis mesin yang menggunakan sistem satelit adalah Man Haller dan Harinoni.
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 4:37 AM under

Dua element utama yang selalu berhubungan dengan teknik cetak offset lithografi adalah tinta dan air. Karena memang pada dasarnya cetak offset lithografi adalah teknik cetak yang memanfaatkan sifat tolak menolak antara air dan minyak (tinta). Oleh karena itu tidak adil rasanya bila dikesempatan yang lalu saya telah menjelaskan sistem penintaan dan tidak membahas tentang sistem pembasahan.

Sistem pembasahan memiliki sebuah tugas utama, yaitu memberikan pembahasan pada permukaan pelat sedemikian rupa tingkat kerataannya, sehingga seluruh permukaan pelat terlapisi oleh air.

Untuk memperoleh pembasahan yang cukup baik dan sempurna, maka harus diperhatikan beberapa hal berikut ini.

  1. Jenis Pelat dengan Permukaan yang Berbeda-beda
    Hal ini ditinjau dari sistem pengasaran permukaan pelat cetak, karena permukaan yang licin tidak akan mampu memegang air.
  2. Susunan Konstruksi Sistem Pembasah
    Berkaitan dengan sistem pembasah yang ada, seperti sistem konvensional yang menggunakan kain molten dan juga sistem pembahasan yang menggunakan alkohol.
  3. Gerak Udara
    Adanya gerak udara akan mempercepat penguapan air pembasah.
  4. Suhu Air Pembasah
    Adanya peningkatan suhu air pembasah akan mempercepat penguapan.
  5. Kemampuan Bahan Cetak Menarik Air
    Untuk jenis kertas yang memiliki sifat menarik air, maka pembasahan harus lebih banyak.
  6. Kecepatan Putaran Mesin
    Semakin cepat mesin berputar, maka panas yang dihasilkan semakin besar, sehingga suplai air pembasah pun harus lebih banyak.
  7. Keasaman Air Pembasah
    Idealnya pH air pembasah adalah 5,5-5,6 karena bila terlalu asam atau terlalu basa/alkali, maka akan mempengaruhi daya lekat tinta dan proses pengeringan.
  8. Penyetelan Rol-Rol Pembasahan
    Penyetelan yang terlalu berat akan memperkecil pembasahan dan yang terlalu ringan akan memperbanyak pembasahan, sehingga hasil cetak akan kotor atau buram.

Berikut gambaran sederhana dari sistem pembasahan konvensional mesin cetak offset lembaran

offset machine wetting system Keterangan :
  1. Bak air
  2. Rol bak air
  3. Rol jilat air
  4. Rol distribusi
  5. Rol Form
  6. Form/Pelat cetak
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 4:33 AM under

Penintaan pada permukaan pelat cetak dilakukan oleh seperangkat rol yang harus mampu menerima dan melepaskan bagian lapisan tinta yang sangat tipis. Jumlah dari rol-rol yang ada di unit penintaan sangat menentukan kesempurnaan penintaan. Tinta harus disuplai secara cukup dalam setiap pencetakan untuk menutup permukaan gambar dengan lapisan tinta yang sama tebalnya.

Bila pemberian tinta tidak cukup untuk menutup seluruh permukaan pelat, maka hasil cetakan akan terlihat "tipis" karena lapisan tinta tidak cukup untuk menutup seluruh bagian bahan cetak. Perputaran jumlah keliling rol tinta yang ideal harus lebih besar dari panjang gambar agar rol dapat menutup seluruh permukaan gambar.

Penyetelan yang teliti juga harus dilakukan agar proses penintaan berjalan dengan baik. Selain itu, kualitas dari proses penintaan itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

  1. Jumlah rol-rol penintaan
  2. Penataan atau pengaturan rol-rol tinta
  3. Jumlah dan diameter rol-rol tinta
  4. Gerak lateral dari rol tinta
  5. Jumlah distribusi rol lateral

Berikut adalah gambaran sederhana dari sistem penintaan pada mesin cetak offset lembaran, berikut keterangannya.

offset machine inking sistem
  1. Ink duct / Bak tinta
  2. Ink duct roll / Rol bak tinta
  3. Lifter roll / Rol jilat
  4. Distribution roll / Rol distribusi
  5. Form rollers / Rol-rol form (acuan cetak)

A : Rol-rol yang terbuat dari logam dan bergerak secara lateral untuk meratakan tinta.

POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 4:30 AM under

Jika dilihat dari unit cetaknya, konstruksi mesin cetak offset lembaran bisa dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu:

  1. Mesin Cetak Offset 1 Warna
    Mesin cetak offset terdiri dari satu unit mesin dengan 3 buah silinder di dalamnya, silinder itu adalah :
    • Silinder pelat
    • Silinder blanket
    • Silinder Impresion
  2. Mesin Cetak Offset 2 Warna
    Jenis mesin ini memiliki dua macam konstruksi, yaitu:
    • Menggunakan 2 unit secara berurutan, dimana setiap unit terdiri dari silinder pelat, silinder blanket, dan silinder impresion. Penyerahan kertas dari unit satu ke unit dua menggunakan teromol pemindah.
    • Hanya menggunakan satu unit yang terdiri dari 2 silinder pelat, 2 silinder blanket, dan satu silinder impresion. Konstruksi ini memungkinkan pencetakan dua warna sekaligus dalam satu cetakan.
  3. Mesin Cetak Offset 4 Warna
    Jenis mesin ini memiliki dua macam konstruksi, yaitu:
    • Menggunakan 4 unit secara berurutan, dimana satu unit terdiri dari 1 silinder pelat, 1 silinder blanket, dan 1 silinder impresion. Dan satu unit mewakili satu warna.
    • Terdiri dari dua unti yang mana setiap unitnya terdiri dari 2 silinder pelat, 2 silinder blanket, dan 1 silinder impresion.
  4. Mesin Cetak Offset Perfector
    Lain dengan tiga konstruksi sebelumnya yang hanya bisa mencetak 1, 2, atau 4 warna hanya pada satu sisi bahan cetak, maka konstruksi mesin jenis ini mampu mencetak dua sisi bahan sekaligus dalam satu kali lintasan. Konstruksinya sendiri dibagi menjadi 2 jenis konstruksi, yaitu:
    • Blanket to Blanket, yang terdiri dari 4 buah silinder, yaitu 2 silinder pelat dan 2 silinder blanket. Pada waktu pencetakan, bahan cetak berada diantara 2 silinder blanket yang saling menekan.
    • Dua unit (atau lebih) secara berurutan, dimana setiap unit terdiri dari 1 silinder pelat, 1 silinder blanket, dan 1 silinder impresion. Mesin ini juga dilengkapi dengan silinder pembalik kertas.
POSTED BY The Zaoldyeck Prince on 1:56 AM under

Cetak offset adalah teknik cetak yang banyak digunakan saat ini. Karena telah terbukti teknik cetak yang satu ini memang memiliki banyak keunggulan dibanding teknik-teknik lainnya. Kecepatan, kemampuan, dan kemajuan teknologinya bisa dibilang sebagai kekuatan utama cetak offset. Bagaimana tidak, mesin offset tersedia dalam beberapa pilihan. Mulai dari mesin satu warna seperti Hiedelberg GTO 52, Printmaster, Speed Master, Roland, hingga mesin-mesin web berukuran besarpun ada. Cetak offset mengadopsi teknik cetak datar, dimana image area dan non image area sama tingginya. Namun apakah sebenarnya cetak offset itu.

Offset berasal dari kata set-off (beralih), dimana lapisan tinta yang ada di pelat cetak tidak langsung dialihkan ke permukaan bahan cetak tetapi diberikan dulu kepada sebuah blanket sebagai perantaranya.

Karena proses peralihan tadi, maka dalam mesin cetak offset setidaknya terdapat tiga buah silinder utama, yaitu silinder pelat, silinder blanket, dan silinder impresion. Dan karena dalam cetak offset tinta harus melalui blanket terlebih dahulu sebelum mencapai permukaan bahan cetak, maka cetak offset termasuk teknik cetak tidak langsung.

Sama seperti stempel anda di rumah, pelat cetak offset juga terdiri dari dua bagian, yaitu image area yang nantinya akan membentuk gambar dan non image area. Bedanya juga pada stempel acuan cetaknya bergelombang, maka tidak pada cetak offset, dalam cetak offset pelat cetak yang digunakan itu datar.

Cetak offset disebut juga chemical printing technique atau teknik cetak kimia, karena dalam prosesnya cetak offset memanfaatkan sifat tolak-menolak antara air dan minyak. Air yang dimaksud adalah air pembasah yang digunakan dalam cetak offset, dan minyak dianalogikan sebagai tinta yang digunakan dalam proses cetak. Bagian image area pada pelat cetak offset terbuat dari lapisan Oleophylic yang bersifat menolak air dan menerima tinta. Sebaliknya bagian non image area terbuat dari lapisan hidrophylic yang menerima air dan akan menolak tinta.

Seperti diketahui bahwa air mustahil melekat pada permukaan yang licin, maka dari itu permukaan bagian oleophylic dibuat licin, sedangkan hydrophylic kasar. Dalam proses cetak offset sendiri, pertama-tama pelat akan diberi lapisan air, dan karena sifat-sifat bagian pelat tadi maka bagian hidrophylic pun akan terlapisi oleh air, sedangkan bagian oleophylic akan tetap kering. Pada tahap selanjutnya, pelat cetak akan dilapisi oleh tinta, dan karena bagian hidropylic telah terlapisi oleh air, maka mustahil tinta akan melekat diatasnya, dan karena bagian oleophylic mampu menarik tinta, maka bagian itu pun akan terlapisi oleh tinta, dan gambar-pun akan terbentuk.